
1. Asal dan Arti Nama Bogor
Tah di dinya, ku andika adegkeun eta dayeuh (Di tempat itu, dirikanlah oleh mu sebuah kota)
laju ngaranan Bogor (lalu berinama Bogor)
sebab bogor teh hartina tunggul kaung (bogor artinya tunggul aren/enau) (tunggul=sisa tebangan pohon beserta akarnya)
Ari tunggul kaung (Tunggul aren itu)
emang geh euweuh hartina (memang tak ada artinya)
euweuh soteh cek nu teu ngarti (Tak ada arti bagi yang tidak mengerti).
Ari sababna, sabab ngaran mudu Bogor (sebab nama mudu(?) Bogor)
sabab bogor mah (sebab bogor itu)
dijieun suluh teu daek hurung (dibuat kayu bakar tak mau membara
) teu melepes tapi ngelun (tak padam tapi menyala yang tidak membara)
haseupna teu mahi dipake muput
(asapnya tak cukup untuk “muput”) (muput=menghasilkan asap banyak yang
salah satunya digunakan untuk mengusir nyamuk atau serangga lainnya)
Tapi amun dijieun tetengger (Tapi kalau dijadikan penyangga rumah)
sanggup nungkulan windu kuat milangan mangsa
(dua kalimat ini menunjukan ungkapan yang arti bebasnya “bisa bertahan
lama”. Mirip seperi ungkapan “tak lapuk kena hujan, tak lekang kena
panas)
Amun kadupak (kalau terpentok)
mantak borok nu ngadupakna (bisa membuat luka/koreng yang terpentok)
moal geuwat cageur tah inyana (membuat luka/koreng yang lama sembuhnya)
Amun katajong? (kalau tertendang?)
mantak bohak nu najongna (bisa melukai yang mendangnya)
moal geuwat waras tah cokorna (kakinya bakalan lama sembuhnya)
Tapi, amun dijieun kekesed? (Tapi, kalau dibuat kesed?)
sing nyaraho (harap semuanya tahu)
isukan jaga pageto (besok atau lusa) bakal
harudang pating kodongkang (bakal bangkit sambil merangkak
(?)) nu ngarawah si calutak (menasehati yang tidak sopan)
Tah kitu! (begitulah)
ngaranan ku andika eta dayeuh (berinama oleh mu itu kota)
Dayeuh Bogor! (Kota Bogor) [Pantun Pa Cilong.
"Ngadegna Dayeuh Pajajaran" (=berdirinya kota Pajajaran)]
Pantun
di atas menjadi dasar yang paling kuat tentang kenapa nama kota itu
dinamakan “Bogor”. Seperti diketahui sampai saat ini ada empat pendapat
tentang asal nama Bogor:
Berasal dari salah ucap orang Sunda
untuk “Buitenzorg” yaitu nama resmi Bogor pada masa penjajahan Belanda
Berasal dari “Baghar atau baqar” yang berarti sapi karena di dalam Kebun
Raya ada sebuah patung sapi.
Berasal dari kata “Bokor”
yaitu sejenis bakul logam tanpa alasan yang jelas Asli bernama Bogor
yang artinya “tunggul kawung” (enau atau aren).

Pendapat
bahwa Bogor berasal dari “buitenzorg” adalah dugaan intelek yang
mengira lidah orang Sunda sedemikian kakunya dengan mengambil perumpaman
melesetnya “Batavia” menjadi “Batawi”. Akan tetapi bila kita perhatikan
bagaimana orang Sunda mengucapkan “sikenhes” untuk “ziekenhuis” (rumah
sakit” atau “bes” untuk “buis” (pipa) atau “boreh” untuk “boreg”
(jaminan), maka merdasarkan gejala bahasa tersebut, seharusnya orang
sunda melafalkan “buitenzorg” menjadi “betensoreh”. Jadi dugaan
“buitenzorg” menjadi Bogor terlalu dikira-kira.
Pendapat
kedua (“baghar atau baqar”) berdasarkan kenyataan adanya pengaruh bahasa
Arab di daerah sekitar Pekojan. Orang Sunda akrab dengan bahasa Arab
lewat agama Islam, akan tetapi belum pernah ada bunyi BA dari bahasa
Arab menjadi BO. Selain itu, dugaannya mengandung kelemahan dari segi
urutn waktu. Kata Bogor telah ada sebelum kebun raya dibuat, sedangkan
arca sapi itu berasal dari kolam kuno Kotabatu yang dipindahkan ke dalam
kebun raya oleh Dr. Frideriech dalam pertengahan abad 19.
Pendapat
ketiga (asal kata “bokor”) juga mengandung kelemahan karena bokor itu
sendiri adalah kata Sunda asli yang keasliannya cukup terjamin. Meskipun
demikian, perubahan bunyi “K” menjadi “G” tanpa menimbulkan perubahan
arti dapat ditemui pada kata “kumasep” dan “angkeuhan” yang sering
diucapkan menjadi “gumasep” (merasa cakep/centil) dan “anggeuhan” (saya
harus tanya orang tua dulu nich artinya

). Jadi bisa saja Bogor memang berasal dari Bokor. Akan tetapi, tak ada
seorangpun yang biasa mengartikan “Bogor” sama dengan “bokor”.
Pendapat
keempat kita temukan dalam pantun Bogor yang sudah disebutkan diawal
posting. Dalam lakon itu dikemukakan bahwa kata “bogor” berarti “tunggul
kawung”. Keadaan yang sama dapat ditemui pada nama tempat “Tunggilis”
yang terletak di tepi jalan antara Cileungsi dengan Jonggol. Kata
“tunggilis” berarti tunggul pinang yang secara kiasan diartikan
menyendiri atau hidup sebatang kara.
Masyarakat
Cinta Bogor doc By : Taufik Hassunna Foto : STASIUN BOGOR Tahun 1885
Sebuah riset tentang pergerakan orang di wilayah Jabotabek menunjukkan
bahwa dalam kurun waktu antara 1974-1994, Kota Bogor hanya menyediakan
pekerjaan bagi 37 persen angkatan kerjanya. Sisanya sebesar 63 persen
merupakan pekerja komuter yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya. Riset
yang sama menyimpulkan bahwa dari sekitar 600.000 pergerakan per hari
yang masuk ke Jakarta, hampir 46 persen diantaranya berasal dari Bogor
(Muhammad, 2003). Angka angka ini merupakan indikator pendekat (proxy
indicator) yang menunjukkan besarnya proporsi pekerja komuter terhadap
jalannya perekonomian kota Bogor, walaupun survey khusus tentang hal ini
masih belum tersedia
Di Jawa Barat banyak tempat
bernama Bogor, seperti yang bisa ditemukan di Sumedang dan Garut.
Demikian pula di Jawa Tengah berdasar catatan Prof. Veth dalam buku
“Java”. Dengan demikian memang agak sulit menerima terori “buitenzorg”,
“baghar” dan “bokor”.
Bogor selain berarti tunggul kawung,
juga berarti daging pohon kawung yang biasa diajdikan sagu (di daerah
Bekasi). Dalam bahasa Jawa “Bogor” berati pohon kawung dan kata kerja
“dibogor” berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, “pabogoran” berarti
kebun kaeung. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, ?L”Bogor”
berarti “droogetapte kawoeng” (pohon enau yang telah habis disadap) atau
“bladerlooze en taklooze boom” (pohon yang tak berdaun dan tak
bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata “pugur” atau “pogor”. Akan
tetapi dalam bahasa Sunda “muguran dengan “mogoran” berbeda arti. Yang
pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena
menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang
kurang susila. Pendapat desas-desus bahwa Bogor itu berarti “pamogoran”
bisa dianggap terlalu iseng.
Nama Bogor dapat ditemui pada
sebuah dokumen tertanggal 7 April 1752. Dalam dokumen tersebut
tercantum nama Ngabei Raksacandra sebagai “hoofd van de negorij Bogor”
(kepala kampung Bogor). Dalam tahun tersebut ibukota Kabupaten Bogor
masih berkedudukan di Tanah Baru. Dua tahun kemudian, Bupati Demang
Wirnata mengajukan permohonan kepada Gubernur Jacob Mossel agar
diizinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati di dekat
“Buitenzorg”. Kelak karena di depan rumah Bupati Bogor tersebut terdapat
sebuah kolam besar (empang), maka nama “Sukahati” diganti menjadi
“Empang”.
Pada tahun 1752 tersebut, di Kota Bogor belum ada
orang asing, kecuali Belanda. Kebun Raya sendiri baru didirikan tahun
1817 sehingga teori “arca sapi” tidak dapat diterima sebagai asal-usul
nama Bogor. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya ada
pada lokasi tanaman kaktus. Pasar yang didirikan pada lokasi kampung
tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor (papan nama “Pasar Baru
Bogor” sebenarnya agak mengganggu rangkaian historis ini)
Sejarah Asal dan Arti Nama Pakuan dan Pajajaran
Hampir
secara umum penduduk Bogor mempunyai keyakinan bahwa Kota Bogor
mempunyai hubungan lokatif dengan Kota Pakuan, ibukota Pajajaran.
Asal-usul dan arti Pakuan terdapat dalam berbagai sumber. Di bawah ini
adalah hasil penulusuran dari sumber-seumber tersebut berdasarkan urutan
waktu:

Carita
(Cerita): Waruga Guru (1750-an). Dalam naskah berhasa Sunda kuno ini
diterangkan bahwa nama Pakuan Pajajaran didasarkan bahwa di lokasi
tersebut banak terdapat pohon Pakujajar.
K.F. Holle (1869). Dalam tulisan berjudul “
De Batoe Toelis te Buitenzorg”
(Batutulis di Bogor), Holle menyebutkan bahwa di dekat Kota Bogor
terdapat kampung bernama Cipaku (beserta sungai yang memeiliki nama yang
sama). Di sana banyak ditemukan pohon Paku. Jadi menurut Holle, nama
Pakuan ada kaitannya dengan kehadiran CIpaku dan Pohon Paku.Pakuan
Pajajaran berarti pohon paku yang berjajar
(“op rijen staande pakoe bomen“).
G.P.
Rouffaer (1919) dalam “Encyclopedie van Niederlandsch Indie” edisi
Stibbe tahun 1919. Pakuan mengandung pengertian “Paku”, akan tetapi
harus diartikan “paku jagat”
(“spijker der wereld”) yang
melambangkan pribadi raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam.
“Pakuan” menurut Fouffaer setara dengan “Maharaja”. Kata “Pajajaran”
diartikan sebagai “berdiri sejajar” atau “imbangan”
(“evenknie”).
Yang dimaksudkan Rouffaer adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan
Majapahit. Sekalipun Rouffaer tidak merangkumkan arti Pakuan Pajajaran,
namun dari uraiannya dapat disimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran menurut
pendapatnya berarti “Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan
(Maharaja) Majapahit”. Ia sependapat dengan Hoesein Djajaningrat (1913)
bahwa Pakuan Pajajaran didirikan tahun 1433.
R. Ng. Poerbatjaraka (1921). Dalam tulisan
“De Batoe-Toelis bij Buitenzorg” (Batutulis dekat Bogor) ia menjelaskan bahwa kata “Pakuan” mestinya berasal dari bahasa Jawa kuno “
pakwwan” yang kemudian dieja
“pakwan”
(satu “w”, ini tertulis pada Prasasti Batutulis). Dalam lidah orang
Sunda kata itu akan diucapkan “pakuan”. Kata “pakwan” berarti kemah atau
istaa. Jadi, Pakuan Pajajaran, menurut Poerbatjaraka, berarti “istana
yang berjajar
(“aanrijen staande hoven”).
H. ten
Dam (1957). Sebagai Insinyur Pertanian, Ten Dam ingin meneliti kehidupan
sosial-ekonomi petani Jawa Barat dengan pendekatan awal segi
perkembangan sejarah. Dalam tulisan “
Verkenningen Rondom Padjadjaran” (Pengenalan sekitar Pajajaran), pengertian “Pakuan” ada hubungannya dengan
“lingga”
(tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulis sebagai
tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam “carita Parahyangan”
disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya
masih mempunyai pengertian “paku”.Ia berpendapat bahwa “pakuan”
bukanlah nama, melainkan kata benda umum yang berarti ibukota
(“hoffstad”)
yang harus dibedakan dari keraton. Kata “pajajaran” ditinjaunya
berdasarkan keadaan topografi. Ia merujuk laporan Kapiten Wikler (1690)
yang memberitakan bahwa ia melintasi istana Pakuan di Pajajaran yang
terletak antara Sungai Besar dengan Sungai Tanggerang (disebut juga
Ciliwung dan Cisadane). Ten Dam menarik kesimpulan bahwa nama
“Pajajaran” muncul karena untuk beberapa kilometer Ciliwung dan Cisadane
mengalir sejajar. Jadi, Pakuan Pajajaran dalam pengertian Ten Dam
adalah Pakuan di Pajajaran atau “Dayeuh Pajajaran”.
Demikianlah
tafsiran nama Pakuan Pajajaran menurut lima sumber. Nama resmi yang
pernah digunakan dalam sumber sejarah ada tiga, yaitu:
1. Pakuan Pajajaran (lengkap)
2. Pakuan (tanpa Pajajaran)
3. Pajajaran (tanpa Pakuan)
Ketiga
sebutan itu dapat ditemukan dalam Prasasti Batutulis (nomor 1 & 2),
sedangkan nomor 3 bisa dijumpai pada Prasasti Kabantenan di Bekasi.
Lantas, apa arti kata itu menurut orang Pajajaran sendiri?
Dalam naskah “Carita Parahiyangan” ada kalimat berbunyi “
Sang
Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga
Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima
Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu
Dewata” (Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman
Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran
yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati,
yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata).
Sanghiyang Sri
Ratu Dewata adalah gelar lain untuk Sri Baduga. Jadi yang disebut
“pakuan” itu adalah “kadaton” yang bernama Sri Bima dst. “Pakuan” adalah
tempat tinggal untuk raja, biasa disebut keraton, kedaton atau istana.
Jadi tafsiran Poerbatjaraka lah yang sejalan dengan arti yang dimaksud
dalam “Carita Parahiyangan”, yaitu “istana yang berjajar” Tafsiran
tersebut lebih mendekati lagi bila dilihat nama istana yang cukup
panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri. Diperkirakan
ada 5 bangunan keraton yang masing-masing bernama: Bima, Punta,
Narayana, Madura dan Suradipati. Inilah mungkin yang biasa disebut dalam
peristilahan klasik “panca persada” (lima keeraton). Suradipati adalah
nama keraton induk. Hal ini dapat dibandingkan dengan nama-nama keraton
lain, yaitu Surawisesa di Kawali, Surasowan di Banten dan Surakarta di
Jayakarta pada masa silam.
Karena nama yang panjang itulah
mungkin orang lebih senang meringkasnya, Pakuan Pajajaran atau Pakuan
atau Pajajaran. Nama keraton dapat meluas menjadi nama ibukota dan
akhirnya menjadi nama negara. Nama keraton Surakarta Hadiningrat dan
Ngayogyakarta Hadiningrat, contohnya meluas menjadi nama ibukota dan
nama daerah. Ngayogyakarta Hadiningrat dalam bahasa sehari-hari cukup
disebut Yogya.
Pendapat Ten Dam (Pakuan = ibukota ) benar
dalam penggunaan, tetapi salah dari segi semantik. Dalam laporan Tome
Pires (1513) disebutkan bahwa bahwa ibukota kerajaan Sunda itu bernama
“Dayo” (dayeuh) dan terletak di daerah pegunungan, dua hari perjalanan
dari pelabuhan Kalapa di muara Ciliwung. Nama “Dayo” didengarnya dari
penduduk atau pembesar Pelabuhan Kalapa. Jadi jelas, orang Pelabuhan
Kalapa menggunakan kata “dayeuh” (bukan “pakuan”) bila bermaksud
menyebut ibukota. Dalam percakapan sehari-hari, digunakan kata “dayeuh”,
sedangkan dalam kesusastraan digunakan “pakuan” untuk menyebut ibukota
kerajaan.
Untuk praktisnya, dalam tulisan berikut
digunakan “Pakuan” untuk nama ibukota dan “Pajajaran untuk nama negara,
seperti kebiasaan masyarakat Jawa Barat sekarang ini.
Lokasi Pakuan (1)
A. Berita-berita VOC
Laporan
tertulis pertama mengenai lokasi Pakuan diperoleh dari catatan perjalan
ekspedisi pasukan VOC (“Verenigde Oost Indische Compagnie”/Perserikatan
Kumpeni Hindia Timur) yang oleh bangsa kita lumrah disebut Kumpeni.
Karena Inggris pun memiliki perserikatan yang serupa dengan nama EIC
(“East India Company”), maka VOC sering disebut Kumpeni Belanda dan EIC
disebut Kumpeni Inggris.
Setelah mencapai persetujuan dengan
Cirebon (1681), Kumpeni Belanda menandatangani persetujuan dengan Banten
(1684). Dalam persetujuan itu ditetapkan Cisadane menjadi batas kedua
belah pihak.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai lokasi
“bekas istana” Kerajaan Pajajaran, VOC mengirimkan tiga tim ekspedisi
yang masing-masing dipimpin oleh
1. Scipio (1687)
2. Adolf Winkler (1690)
3. Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709)
1. Laporan Scipio
Dua catatan penting dari ekspedisi Scipio adalah
Catatan
perjalanan antara Parung Angsana (Tanah Baru) menuju Cipaku dengan
melalui Tajur, kira-kira lokasi Pabrik “Unitex” sekarang. Catatannya
adalah sbb.: “Jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku adalah
lahan yang bersih dan di sana banyak sekali pohon buah-buahan,
tampaknya pernah dihuni”.
Lukisan jalan setelah ia
melintasi Ciliwung. Ia mencatat “Melewati dua buah jalan dengan pohon
buah-buahan yang berderet lurus dan 3 buah runtuhan parit”. Dari anggota
pasukannya, Scipio memperoleh penerangan bahwa semua itu peninggalan
dari Raja Pajajaran.
Dari perjalanannya disimpulkan bahwa jejak
Pajajaran yang masih bisa memberikan “kesan wajah” kerajaan hanyalah
“Situs Batutulis”.
Penemuan Scipio segera dilaporkan oleh
Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di Belanda. Dalam
laporan yang ditulis tanggal 23 Desember 1687, ia memberitakan bahwa
menurut kepercayaan penduduk, “dat hetselve paleijs en specialijck de
verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort”
(bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan
untuk raja “Jawa” <maksudnya “Sunda”> Pajajaran sekarang masih
berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau). Rupanya
laporan penduduk Parung Angsana ada hubungannya dengan seorang anggota
ekspedisi yang diterkam harimau di dekat Cisadane pada malam tanggal 28
Agustus 1687. Diperkirakan Situs Batutulis pernah menjadi sarang harimau
dan ini telah menumbuhkan khayalan adanya hubungan antara Pajajaran
yang sirna dengan keberadaan harimau.
2. Laporan Adolf Winkler (1690)
Laporan
Scipio menggugah para pimpinan Kumpeni Belanda. Tiga tahun kemudian
dibentuk kembali team ekspedisi dipimpin oleh Kapiten Winkler. Pasukan
Winkler terdiri dari 16 orang kulit putih dan 26 orang Makasar serta
seorang ahli ukur.
Perjalanan ringkas ekspedisi Winkler adalah sebagai berikut:
Seperti
Scipio, Winkler bertolak dari Kedung Halang lewat Parung Angsana (Tanah
Baru) lalu ke selatan. Ia melewati jalan besar yang oleh Scipio disebut
“twee lanen”. Hal ini tidak bertentangan. Winkler menyebutkan jalan
tersebut sejajar dengan aliran Ciliwung lalu membentuk siku-siku. Karena
itu ia hanya mencatat satu jalan. Scipio menganggap jalan yang berbelok
tajam ini sebagai dua jalan yang bertemu.
Setelah melewati
sungai Jambuluwuk (Cibalok) dan melintasi “parit Pakuan yang dalam dan
berdinding tegak (“de diepe dwarsgragt van Pakowang”) yang tepinya
membentang ke arah Ciliwung dan sampai ke jalan menuju arah tenggara 20
menit setelah arca. Sepuluh menit kemudian (pukul 10.54) sampai di
lokasi kampung Tajur Agung (waktu itu sudah tidak ada). Satu menit
kemudian, ia sampai ke pangkal jalan durian yang panjangnya hanya 2
menit perjalanan dengan berkuda santai.
Bila kembali ke
catatan Scipio yang mengatakan bahwa jalan dan lahan antara Parung
Angsana dengan Cipaku itu bersih dan di mana-mana penuh dengan pohon
buah-buhan, maka dapat disimpulkan bahwa kompleks “Unitex” itu pada
jaman Pajajaran merupakan “Kebun Kerajaan”. Tajur adalah kata Sunda kuno
yang berarti “tanam, tanaman atau kebun”. Tajur Agung sama artinya
dengan “Kebon Gede atau Kebun Raya”. Sebagai kebun kerajaan Tajur Agung
menjadi tempat bercengkerama keluarga kerajaan. Karena itu pula penggal
jalan pada bagian ini ditanami pohon durian pada kedua sisinya.
Dari
Tajur Agung Winkler menuju ke daerah Batutulis menempuh jalan yang
kelak (1709) dilalui Van Riebeeck dari arah berlawanan. Jalan ini menuju
ke gerbang kota (lokasi dekat pabrik paku “Tulus Rejo”, sekarang). Di
situlah letak Kampung Lawang Gintung pertama sebelum pindah ke “Sekip”
dan kemudian lokasi sekarang (bernama tetap Lawang Gintung). Jadi
gerbang Pakuan pada sisi ini ada pada penggal jalan di Bantar Peuteuy
(depan kompleks perumahan LIPI). Dulu di sana ada pohon Gintung.
Di
Batutulis Winkler menemukan lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi.
Menurut penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan
(“het conincklijke huijs soude daerontrent gestaen hebben”). Setelah
diukur, lantai itu membentang ke arah paseban tua. Di sana ditemukan 7
batang pohon beringin.
Di dekat jalan tersebut Winkler
menemukan sebuah batu besar yang dibentuk secara indah. Jalan berbatu
itu terletak sebelum Winkler tiba di situs Bautulis, dan karena dari
batu bertulis perjalanan dilanjutkan ke tempat arca (“Purwa Galih”),
maka lokasi jalan itu harus terletak di bagian utara tempat batu
bertulis (prasasti). Antara jalan berbatu dengan batu besar yang indah
dihubungkan oleh “Gang Amil”. Lahan di bagian utara Gang Amil ini
bersambung dengan Bale Kambang (rumah terapung). Balen Kambang ini
adalah untuk bercengkrama raja. Contoh Bale kambang yang masih utuh
adalah seperti yang terdapat di bekas Pusat Kerajaan Klungkung di Bali.
Dengan indikasi tersebut, lokasi keraton Pajajaran mesti terletak pada
lahan yang dibatasi Jl. Batutulis (sisi barat), Gang Amil (sisi
selatan), bekas parit yang sekarang dijadikan perumahan (sisi timur) dan
“benteng batu” yang ditemukan Scipio sebelum sampai di tempat prasast
(sisi utara). Balekambang terletak di sebelah utara (luar) benteng itu.
Pohon beringinnya mestinya berada dekat gerbang Pakuan di lokasi
jembatan Bondongan sekarang.
Dari Gang Amil, Winkler
memasuki tempat batu bertulis. Ia memberitakan bahwa “Istana Pakuan” itu
dikeliligi oleh dinding dan di dalamnya ada sebuah batu berisi tulisan
sebanyak 81/2 baris (Ia menyebut demikian karena baris ke-9 hanya berisi
6 huruf dan sepasan tanda penutup). Yang penting adalah untuk kedua
batu itu Winkler menggunakan kata “stond” (berdiri). Jadi setelah
terlantar selama kira-kira 110 th (sejak Pajajaran burak
<bubar/hancur> oleh pasukan Banten th 1579), batu-batu itu masih
berdiri (masih tetap pada posisi semula).
Dari tempat
prasasti, Winkler menuju ke tempat arca (umum disebut Purwakalih, 1911
Pleyte masih mencatat nama Purwa Galih). Di sana terdapat 3 buah patung
yang menurut informan Pleyte adalah patung Purwa Galih, Gelap Nyawang
dan Kidang Pananjung. Nama trio ini terdapat dalam “Babad Pajajaran”
yang ditulis di Sumedang (1816) pada masa bupati Pangeran Kornel,
kemudian disadur dala bentuk pupuh 1862. Penyadur naskah babad
mengetahui beberapa ciri bekas pusat kerajaan seperti juga penduduk
Parung Angsana dalam tahun 1687 mengetahui hubungan antara “Kabuyutan”
Batutulis dengan kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Menurut babad
ini, “Pohon Campaka Warna” (sekarang tinggal tunggulnya) terletak tidak
jauh dari alun-alun
Lokasi Pakuan (2)
B. BERITA DARI NASKAH TUA
Dalam
kropak (Tulisan pada rontal atau daun nipah) yang diberi nomor 406 di
Mueseum Pusat terdapat petunjuk yang mengarah kepada lokasi Pakuan.
Kropak 406 sebagian telah diterbitkan khusus dengan nama “Carita
Parahiyangan”. Dalam bagian yang belum diterbitkan (biasa disebut
fragmen K 406) terdapat keterangan mengenai kisah pendirian keraton Sri
Bima Punta Narayana Madura Suradipati. “Di inya urut kadatwan, ku
Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima Punta Narayana Madura
Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebolta ku Maharaja Tarusbawa deung
Bujangga Sedamanah. Disiar ka hulu Cipakancilan. Katimu Bagawat Sunda
Mayajati. Ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa.
(Di
sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri
Kadatuan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Setelah selesai
(dibangun) lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga
Sedamanah. Dicari ke hulu Cipakancilan. Ditemukanlah Bagawat Sunda
Majayati. Oleh Bujangga Sedamanah dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa).
Dari
sumber kuno itu dapat diketahui bahwa letak keraton tidak akan terlalu
jauh dari “hulu Cipakancilan”. Hulu Cipakancilan terletak dekat lokasi
kampung Lawang Gintung yang sekarang, sebab ke bagian hulu sungai ini
disebut Ciawi. Dari naskah itu pula kita mengetahui bahwa sejak jaman
Pajajaran sungai itu sudah bernam Cipakancilan. Hanyalah juru pantun
kemudian menterjemahkannya menjadi Cipeucang. Dalam bahasa Sunda kuno
dan Jawa kuno kata “kancil” memang berarti “peucang”.
C. HASIL PENELITIAN
Prasasti
Batutulis sudah mulai diteliti sejak tahun 1806 dengan pembuatan
“cetakan tangan” untuk Universitas Leiden (Belanda). Upaya pembacaan
pertama dilakukan oleh Friederich tahun 1853. Sampai tahun 1921 telah
ada 4 orang ahli yang meneliti isinya. Akan tetapi, hanya C.M. Pleyte
yang mencurahkan pada lokasi Pakuan, yang lain hanya mendalami isi
prasasti itu.
Hasil penelitian Pleyte dipublikasikan tahun
1911 (penelitiannya sendiri berlangsung tahun 1903). Dalam tulisan “Het
Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg” (Angka tahun pada Batutulis
di dekat Bogor), Pleyte menjelaskan “Waar alle legenden, zoowel als de
meer geloofwaardige historische berichten, het huidige dorpje
Batoe-Toelis, als plaats waar eenmal Padjadjaran’s koningsburcht stond,
aanwijzen, kwam het er aleen nog op aan. Naar eenige preciseering in
deze te trachten”
(Dalam hal legenda-legenda dan berita-berita
sejarah yang lebih dipercayai menunjuk kampung Batutulis yang sekarang
sebagai tempat puri kerajaan Pajajaran, masalah yang timbul tinggalah
menelusuri letaknya yang tepat)
Sedikit kotradiksi dari Pleyte
adalah pertama ia menunjuk kampung Batutulis sebagai lokasi keraton,
akan tetapi kemudian ia meluaskan lingkaran lokasinya meliputi seluruh
wilayah Kelurahan Batutulis yang sekarang. Pleyte mengidentikkan puri
dengan kota kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati
dengan Pakuan sebagai kota.
Babad Pajajaran melukiskan
bahwa Pakuan terbagi atas “Dalem Kitha” (Jero kuta) dan “Jawi Kitha”
(Luar kuta). Pengertian yang tepat adalah “kota dalam” dan “kota luar”.
Pleyte masih menemukan benteng tanah di daerah Jero Kuta yang membentang
ke arah Sukasari pada pertemuan Jl. Siliwangi dengan Jl. Batutulis.
Peneliti
lain seperti Ten Dam menduga letak keraton di dekat kampung Lawang
Gintung (bekas) Asrama Zeni Angkatan Darat. Suhamir dan Salmun bahkan
menunjuk pada lokasi Istana Bogor yang sekarang. Namun pendapat Suhamir
dan Salmun kurang ditunjang oleh data kepurbakalaan dan sumber sejarah.
Dugaannya hanya didasarkan pada anggapan bahwa “Leuwi Sipatahunan” yang
termashur dalam lakon-lakon lama itu terletak pada alur Ciliwung dalam
Kebun Raya Bogor. Menurut kisah klasih, “leuwi” (lubuk) itu biasa
dipakai bermandi-mandi oleh puteri-puteri penghuni istana. Lalu ditarik
logika bahwa letak istana tentu tak jauh dari “Leuwi Sipatahunan” itu.
Pantun
Bogor mengarah pada lokasi bekas Asrama Resimen “Cakrabirawa”
(Kesatrian) dekat perbatasan kota. Daerah itu dikatakan bekas Tamansari
kerajaan bernama “Mila Kencana”. Namun hal ini juga kurang ditunjang
sumber sejarah yang lebih tua. Selain itu, lokasinya terlalu berdekatan
dengan kuta yang kondisi topografinya merupakan titik paling lemah untuk
pertahanan Kota Pakuan. Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam
berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian
tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula
ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawang Gintung
yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini “Kuta Maneuh”.
Sebenarnya
hampir semua peneliti berpedoman pada laporan Kapiten Winkler
(kunjungan ke Batutulis 14 Juni 1690). Kunci laporan Winkler tidak pad
sebuah “hoff” (istana) yang digunakan untuk situs prasasti, melainkan
pada kata “paseban” dengan 7 batang beringin pada lokasi Gang Amil.
Sebelum diperbaiki, Gang Amil ini memang bernuansa kuno dan pada
pinggir-pinggirnya banyak ditemukan batu-batu bekas “balay” yang lama.
Penelitian
lanjutan membuktian bahwa benteng Kota Pakuan meliputi daerah Lawang
Saketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte. Menurut Coolsma, Lawang
Saketeng berarti “porte brisee, bewaakte in-en uitgang” (pintu gerbang
lipat yang dijaga dalam dan luarnya). Kampung Lawang Saketeng tidak
terletak tepat pada bekas lokasi gerbang.
Benteng pada tempat
ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal ke ujung
lembah Cipakancilan, kemudian bersambung dengan tebing Gang Beton di
sebelah Bioskop “Rangga Gading”. Setelah menyilang Jl. Suryakencana,
membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut. Deretan pertokoan
antara Jl. Suryakencana dengan Jl. Roda di bagian in sampai ke Gardu
Tinggi, sebenarnya didirikan pada bekas pondasi benteng. Selanjutnya
benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ciliwung. Deretan kios dekat
simpangan Jl. Siliwangi – Jl. Batutulis juga didirikan pada bekas
fondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng
Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded.
Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ciliwung melewati
kompleks perkantoran PAM, lalu menyiang Jl. Raya Pajajaran, pada
perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus Jl. Siliwangi (di
sini dahulu terdapat gerbang), terus memanjang sampai Kampung Lawang
Gintung. Di Kampung Lawang Gintung, benteng ini bersambung dengan
“benteng alam” yaitu puncak tebing Cipaku yang curam sampai di lokasi
Stasiun Kereta Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang
sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Cipakancilan setelah
melewati lokasi Jembatan Bondongan. Tebing Cipakancilan memisahkan
“ujung benteng” dengan “benteng” pada tebing Kampung Cincaw.
PAKUAN IBUKOTA KERAJAAN SUNDA
Tome
Pires (1513) menyebutkan bahwa dayo (dayeuh) Kerajaan Sunda terletak
dua hari perjalanan dari Pelabuhan Kalapa yang terletak di muara
Ciliwung. Sunda sebagai nama kerajaan tercata dalam dua buah prasasti
batu yang ditemukan di Bogor dan Sukabumi. Prasasti yang di Bogor banyak
berhubungan dengan KERAJAAN SUNDA PECAHAN TARUMANAGARA, sedangkan yang
di daerah Sukabumi berhubungan dengan KERAJAAN SUNDA SAMPAI MASA SRI
JAYABUPATI.
A. KERAJAAN SUNDA PECAHAN TARUMANAGARA
Di
Bogor, prasasti itu ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh
dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini
tak berada ditempat asalnya. Dalam prasasti
itu dituliskan
“ini sabdakalanda rakryan juru pangambat i kawihaji
panyca pasagi marsan desa barpulihkan haji sunda”
Terjemahannya menurut Bosch:
“Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat
dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5)
pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan
kepada raja Sunda”.
Karna
angka tahunnya bercorak “sangkala” yang mengikuti ketentuan “angkanam
vamato gatih” (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat
dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi.
Beberapa ratus meter
dari tempat prasasti itu, ditemukan pula dua prasasti lainnya
peninggalan Maharaja Purnawarman yang berhuruf Palawa dan berbahasa
Sangsekerta. Dalam literatur, kedua prasasti itu disebut Prasasti
Ciaruteun dan Prasasti Kebon Kopi (daerah bekas perkebunan kopi milik
Jonathan Rig). Prasasti Ciaruteun semula terletak pada aliran (sungai)
Ciaruteun (100 meter) dari pertemuan sungai tersebut dengan Cisadane.
Tahun 1981 prasasti itu diangkat dan diletakkan dalam cungkup. Prasasti
Ciaruteun ditulis dalam bentuk puisi 4 baris, berbunyi:
“vikkrantasyavanipateh
shrimatah purnavarmmanah
tarumanagararendrasya
vishnoriva padadvayam”
Terjemahannya menurut Vogel:
“Kedua
(jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan
raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa
Tarumanagara”.
Prasasti Ciaruteun bergambar sepasang
“pandatala” (jejak kaki). Gambar jejak telapak kaki menunjukkan tanda
kekuasaan yang berfungsi mirip “tanda tangan” seperti jaman sekarang.
Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah
itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut “Pustaka Rajyarajya i Bhumi
Nusantara” parwa II sarga 3, halaman 161, diantara bawahan Tarumanagara
pada masa pemerintahan Purnawarman (395-434 M) terdapat nama
“Rajamandala” (Raja daerah) Pasir Muhara. Lahan tempat prasasti itu
ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga
batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19,
tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahul termasuk
bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan
Cibungbulang.
Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:
“jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah
airavatabhasya vibhatidam padadavayam”
(Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki
gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan
penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa)
Menurut
mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa
perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi
Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama
Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra, bahkan diberitakan juga
bahwa bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai
di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman
berukiran sepasang lebah. Ukiran bendera dan sepasang lebah ini dengan
jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan
mengasyikkan diantara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai
perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para
ahli diduga sebagai “huruf ikal” yang masih belum terpecahkan bacaaanya
sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan
telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari
kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan
Pustaka dari Cirebon tentang bendera Tarumanagara dan ukiran sepasang
“bhramara” (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala
“kemudaan” nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya
dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.
Di
daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu
peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa
Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai)
Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi
keterangan berbentuk puisi dua baris:
“shriman data kertajnyo
narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma
pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam – padavimbadavyam
arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam – bhavati
sukhahakaram shalyabhutam ripunam”
Terjemahannya menurut Vogel:
“Yang
termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya
bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya
tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua
jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng
musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang
setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya”.
Kerajaan
Taruma didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman dalam tahun 358 M.
Ia wafat tahun 382 dan dipusarakan di tepi kali Gomati (Bekasi). Ia
digantikan oleh puteranya, Dharmayawarman (382 – 395 M) yang setelah
wafat dipusarakan di tepi kali Candrabaga. Purnawarman adalah raja
Tarumanagara yang ketiga (395 – 434 M). Ia membangun ibukota kerajaan
baru dalam tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai dan dinamainya
“Sundapura”.
Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan
Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah “Kota pelabuhan sungai”
yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten.
Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil
perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan pleh pedagang bambu untuk
mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.
Prasasti Pasir
Muara yang menyebutkan peristiwa pengembalian pemerintahan kepada Raja
Sunda itu dibuat tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa
Tarumanagara adalah Suryawarman (535 – 561 M) Raja Tarumanagara ke-7.
Pustaka Jawadwipa, parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) memberikan
keterangan bahwa dalam masa pemerintahan Candrawarman (515 – 535 M),
ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan
pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap
Tarumanagara. Ditinjau dari segi ini, maka Suryawarman melakukan hal
yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya.
Rakryan Juru
Pengambat yang tersurat dalam prasasti Pasir Muara mungkin sekali
seorang Pejabat Tinggi Tarumanagara yang sebelumnya menjadi wakil raja
sebagai pimpinan pemerintahan di daerah tersebut. Yang belum jelas
adalah mengapa prasasti mengenai pengembalian pemerintahan kepada Raja
Sunda itu terdapat di sana? apakah daerah itu merupakan pusat Kerajaan
Sunda atau hanya sebuah tempat penting yang termasuk kawasan Kerajaan
Sunda?
Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman
dalam tahun 397 M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya.
Baik sumber-sumber prasati maupun sumber-sumber Cirebon memberikan
keterangan bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya.
Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah kekuasaannya
mencakup pula pantai Selat Sunda. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3
(halaman 159 – 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman
terdapat 48 raja daerah yang membentang dari SALAKANAGARA atau
RAJATAPURA (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke PURWALINGGA
(sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah. Secara tradisinal CIPAMALI (Kali
Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat
pada masa silam.
Kehadiran Prasasti Purnawarman di Pasir
Muara, yang memberitakan Raja Sunda dalam tahun 536 M, merupakan gejala
bahwa Ibukota Sundapura telah berubah status menjadi sebuah kerajaan
daerah. Hal ini berarti, pusat pemerintahan Tarumanagara telah bergeser
ke tampat lain [contoh yang sama dapat dilihat dari kedudukaan
RAJATAPURA atau SALAKANAGARA (kota Perak) yang disebut ARGYRE oleh
Ptolemeus dalam tahun 150 M. Kota ini sampai tahun 362 menjadi pusat
pemerintahan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII). Ketika
pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumangara, maka
Salakanagara berubah status menjadi kerajaan daerah. Jayasingawarman
pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri
adalah seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke
Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja
Samudragupta dari Kerajaan Magada.
Suryawarman tidak hanya
melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih
banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan
juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. [Dalam tahun 526
M, Manikmaya (menanu Suryawarman) telah mendirikan kerajaan baru di
Kendan (daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan ). Putera tokoh
Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di Ibukota Taruma dan kemudian
menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur
menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan
Galuh dalam tahun 612 M].
Tarumanagara hanya mengalami masa
pemerintahan 12 orang raja. Dalam tahun 669, Linggawarman (Raja
Tarumanagara terakhir) digantikan oleh menantunya. Linggawarman
mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri
Tarusbawa dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri DAPUNTAHYANG
SRI JAYANASA pendiri Kerajaan SRIWIJAYA. Tarusbawa yang berasal dari
Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa
Tarumanagara yang ke-13. Karena pamor Tarumanagara pada jamannya sudah
sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman jaman Purnawarman yang
berkedudukan di Purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 M, ia
mengganti nama Tarumanagara menjadi KERAJAAN SUNDA. Peristiwa ini
dijadikan alasan oleh Wretikandayun (pendiri Kerajaan Galuh) untuk
memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Karena Putera Mahkota
Galuh berjodoh dengan Parwati puteri MAHARANI SIMA dari Kerajaan
Kalingga Jawa Tengah, maka dengan dukungan Kalingga, Wretikandayun
menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua.
Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa
menerima tuntutan Galuh. Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah
menjadi dua kerajaan, yaitu: KERAJAAN SUNDA dan KERAJAAN GALUH dengan
CITARUM sebagai batas. Maharaja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota
kerajaan yang baru di daerah pedalaman dekat Hulu Cipakancilan (seperti
yang sudah diungkapkan dibagian sebelumnya). [Dalam cerita Parahiyangan,
tokoh Tarusbawa ini hanya disebut dengan gelarnya: Tohaan di Sunda
(Raja Sunda). Ia menjadi cakal-bagal Raja-raja Sunda dan memerintah
sampai tahun 723 M. Karena putera mahkota wafat mendahului Tarusbawa,
maka anak wanita dari putera mahkota (bernama TEJAKANCANA) diangkat
sebagai anak dan ahli waris kerajaan. Suami puteri inilah yang dalam
tahun 723 menggantikan Tarusbawa menjadi Raja Sunda II. Ia bernama
RAKEYAN JAMRI (Cicit Wretikandayun pendiri Kerajaan Galuh). Sebagai
penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama PRABU HARISDARMA dan
kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan
SANJAYA. Sebagai ahli waris Kalingga ia kemudian menjadi penguasa
Kalingga Utara yang disebut BUMI MATARAM dalam tahun 732 M. Kekuasaan di
Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari TEJAKENCANA yang bernama
TAMPERAN atau RAKEYAN PANARABAN. Ia adalah kakak seayah RAKAI
PANANGKARAN (putera Sanjaya dari SUDIWARA puteri DEWASINGA Raja Kalingga
Selatan atau BUMI SAMBARA).
Bersambung …
By Muhamad Husni Thamrin
Saleh Danasasmita. 1983. Sejarah Bogor (Bagian I). PEMDA DT II Bogor.